Sejumlah negara Asia kini aktif merencanakan dan membangun kota-kota baru berskala besar, atau yang sering disebut megapolis, sebagai strategi untuk mengatasi masalah urbanisasi yang padat dan mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi. Proyek-proyek ambisius ini dirancang untuk mengintegrasikan teknologi pintar (smart city), infrastruktur hijau, dan sistem transportasi yang efisien, bertujuan menciptakan pusat kehidupan yang berkelanjutan dan kompetitif secara global. Investasi yang digelontorkan untuk pembangunan ini mencapai triliunan rupiah.
Rencana pembangunan ini bukan tanpa kontroversi. Kritik utama sering kali mengarah pada isu penggusuran masyarakat lokal, dampak lingkungan terhadap ekosistem yang ada, serta potensi kota baru tersebut menjadi “kota hantu” jika gagal menarik populasi dan investasi yang cukup. Pemerintah dan pengembang dituntut untuk memastikan inklusivitas dan transparansi dalam proses perencanaan dan eksekusi proyek-proyek raksasa ini agar tidak meninggalkan masalah sosial.
Di sisi lain, pendukung proyek ini berargumen bahwa pembangunan megapolis adalah keharusan untuk menampung lonjakan populasi perkotaan Asia yang tak terhindarkan. Kota-kota yang ada sudah terlalu padat dan tidak mampu lagi menyediakan kualitas hidup yang memadai. Dengan merancang kota dari nol, kawasan ini memiliki kesempatan emas untuk menerapkan standar keberlanjutan dan teknologi terbaru.
Keberhasilan pembangunan megapolis ini akan menjadi tolok ukur penting bagi masa depan urbanisasi di Asia. Implementasi teknologi seperti Kecerdasan Buatan (AI) untuk manajemen lalu lintas dan energi menjadi kunci utama, serta kemampuan pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja yang sesuai dengan kebutuhan penduduk kota baru.
Asia sedang giat membangun megapolis baru untuk mengatasi urbanisasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi melalui teknologi pintar dan infrastruktur hijau, meskipun dihadapkan pada kritik terkait isu sosial, lingkungan, dan risiko keberlangsungan investasi.

