Quiet quitting, sebuah tren di tempat kerja yang populer di Asia pasca-pandemi, bukanlah tentang berhenti dari pekerjaan, melainkan tentang menolak budaya kerja berlebihan dan melakukan pekerjaan sebatas deskripsi yang dibayar. Ini adalah gerakan untuk mendefinisikan ulang keseimbangan kerja-hidup (work-life balance) dan memprioritaskan kesehatan mental.
Tren ini muncul sebagai respons terhadap tekanan jam kerja yang panjang dan ekspektasi budaya Asia yang sering menuntut loyalitas tanpa batas dan pengorbanan pribadi demi perusahaan. Generasi muda, terutama Gen Z dan Milenial, menolak konsep bahwa identitas diri harus sepenuhnya terikat pada produktivitas pekerjaan.
Perusahaan-perusahaan di Asia mulai merespons tren ini dengan menawarkan kebijakan kerja yang lebih fleksibel, seperti opsi WFH atau jam kerja yang lebih santai. Tujuannya adalah untuk meningkatkan retensi karyawan dan mencegah burnout yang telah menjadi masalah serius di kawasan ini.
Quiet quitting memaksa diskusi yang lebih terbuka tentang kesehatan mental dan batasan profesional. Ini adalah pernyataan bahwa nilai seseorang tidak diukur dari jumlah extra miles yang ditempuh, melainkan dari kualitas kerja yang konsisten selama jam kerja yang wajar.
